Selasa, 01 September 2015

Perjalanan Mr. Morrison

Usianya terbilang muda, untuk seorang pemuda yang berusia 21 tahun yang berasal dari Skotlandia, bahasa inggrisnya sangatlah kental, Inggrisnya beraksen British, tentu sedikit sulit untuk memahami apayang dikatakannya, terlebih lagi bagi orang Aceh. Ia bersama kedua temannya Grace dan Frederick baru sampai di Banda Aceh, setelah melakukan perjalanan dari Sabang, Pulau Weh. Di Aceh, Ia bersama kedua temannya telah mengunjungi Sabang selama beberapa hari. Setelah puas di Sabang, mereka melanjutkan perjalanan mereka ke Banda Aceh.

Wisma Tsacita adalah tempat yang mereka pilih untuk melepas kelelahan, setelah melakukan check in dengan resepsionis, mereka ke lantai dua, di mana kamar mereka berada. Tak ingin buang waktu, mereka langsung melakukan perjalanan mengelilingi Kota Banda Aceh dan Aceh Besar.

Pantai adalah tujuan pertama mereka waktu itu, apalagi kalau bukan pantai Lampuuk yang berada di Kabupaten Aceh Besar, kurang lebih 30-an Km dari pusat Kota Banda Aceh.

Sore harinya mereka langsung kembali ke penginapan. Bersih-bersih seadanya, mereka melanjutkan berkeliling kota Banda Aceh dengan berjalan kaki sampai malam hari dan kembali ke penginapan untuk beristirahat.

Sayangnya, kedua teman Morrison tidak bisa berlama-lama lagi di Banda Aceh. Pukul 05.00 WIB, mereka buru-buru meninggalkan penginapan menuju Bandara Sulthan Iskandar Muda untuk berangkat ke Kuala Lumpur.

Waktu itu, tepatnya pada hari Jum'at, Morrison melanjutkan perjalanannya berkeliling kota Banda Aceh sendirian. Setelah melakukan Check-Out pukul 09.00 WIB, Morrison menitipkan tasnya kepada resepsionis, dan meletakkannya di lobby penginapan.

Dengan berbekal Peta Wisata Kota Banda Aceh dan Smart Phone-nya, Ia menuju Museum Tsunami Aceh dan beberapa tempat wisata di Banda Aceh. Sore hari Ia kembali. Di tangannya, sebuah buku panduan berkeliling Indonesia dibukanya halaman demi halaman. Lonely Planet yang memuat banyak petunjuk untuk menuju tempat-tempat yang disarankan oleh penulis.

Jari telunjuknya mengarah pada sebuah tulisan, P. Banyak, Singkil. Itu adalah tempat yang akan dikunjungi seorang diri. Ia bertanya kepada resepsionis, "Where should I go to get the Bus Stop?", "There is a bus terminal, namely Batoh, you can get there by becak" resepsionis mencoba membantu. Morrison juga bercerita, setelah berlibur di Aceh Singkil, ia akan kembali ke negaranya untuk kuliah kembali di universitas, Ia adalah mahasiswa akuntansi.

Akhirnya, pukul 15.05 WIB, Morrison pergi ke Terminal Bus Batoh menuju Aceh Singkil, tentu perjalanan yang sangat jauh dan panjang, Ia juga harus menuggu keberangkatan Bus jurusan Medan hingga pukul 22.00 WIB, sebenarnya pilihan yang sangat berani, bisa juga dibilang nekat. Seseorang dari Skotlandia, dengan aksen Inggris yang kental, memutuskan perjalanan ke Singkil seorang diri dengan berbekal buku Lonely Planet,  namun dari perjalanan inilah dia akan mendapatkan sesuatu yang tidak didapatkan dari manapun. Keberagaman budaya dan adat istiadat yang akan ia temui nantinya, komunikasi yang sulit yang akan ia hadapi dan akan terselesaikan hanya dengan sebuah senyuman. Pasti ia akan merasakan keramah tamahan dari penduduk di tempat di mana ia berada, mempelajari bagaimana interaksi sosial di sana, dan pastinya akan menjadi bagian cerita dalam hidupnya.

Have a great journey Mr. Morrison and thank you for staying with us :)

He is ready to his next journey
In front of Tsacita Homestay
Mr. Morrison's bag in the lobby